jurnalpemerintahan.com -Ada orang yang gagal melanjutkan pendidikan bukan karena ia tidak memiliki kemampuan untuk belajar, melainkan karena ia tidak memiliki kemampuan untuk membayar kesempatan belajar.
Di balik kalimat yang tampak sederhana tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar biaya kuliah. Ia menyangkut pertanyaan tentang siapa yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dirinya, siapa yang harus berhenti di tengah jalan, dan sejauh mana pendidikan benar-benar dapat menjadi instrumen mobilitas sosial bagi semua orang.
Bagi sebagian orang, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister atau doktoral merupakan pilihan akademik yang relatif tersedia. Mereka dapat memilih universitas, menentukan bidang studi, menyiapkan dokumen, dan mempertimbangkan rencana penelitian. Tetapi bagi sebagian yang lain, keputusan yang sama harus berhadapan dengan persoalan biaya kuliah, biaya hidup, buku, penelitian, pekerjaan, serta kebutuhan keluarga.
Dengan demikian, persoalan pendidikan tidak selalu dapat dijelaskan melalui kategori kemampuan akademik. Sering kali terdapat persoalan yang lebih mendasar: ketidaksetaraan kesempatan untuk mengakses pendidikan. Dalam konteks inilah GMKI Awards menjadi menarik untuk dibaca bukan semata-mata sebagai program beasiswa, melainkan sebagai sebuah bentuk intervensi masyarakat sipil dalam memperluas akses terhadap pendidikan tinggi.
Pada masa bakti Pengurus Pusat GMKI 2025�"2027, GMKI membangun kerja sama dengan tiga perguruan tinggi Kristen, yaitu Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan Universitas Kristen Maranatha. Kerja sama tersebut diarahkan untuk menghadirkan akses pendidikan S2 dan S3 yang lebih terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan bagi kader GMKI maupun kader gereja.
Untuk jenjang S2 tersedia skema biaya Rp15 juta hingga selesai, sementara untuk jenjang S3 diberikan potongan biaya sebesar 50 persen. Program GMKI Awards telah memberikan manfaat kepada 750 penerima beasiswa jenjang S2 dan S3 serta sekitar 400 penerima beasiswa profesi, termasuk bidang hukum dan lainnya. Jika seluruh dukungan pendidikan tersebut dikonversikan ke dalam nilai pembiayaan dan didistribusikan kepada penerima manfaat, total nilai dukungan GMKI Awards mencapai kurang lebih Rp15 miliar.
Angka tersebut penting. Namun, angka bukan keseluruhan cerita. Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai apa yang sesungguhnya dibuka oleh sebuah beasiswa: sekadar akses terhadap ruang kuliah, atau kesempatan yang lebih luas bagi seseorang untuk mengembangkan kapasitas dan menentukan masa depannya?
Pendidikan dan Ketimpangan Kesempatan
Perdebatan mengenai pendidikan tinggi selama ini sering diletakkan dalam kerangka kualitas. Kita membicarakan akreditasi, kualitas dosen, kurikulum, penelitian, publikasi, dan kompetensi lulusan. Semua aspek tersebut tentu penting.
Namun, terdapat pertanyaan yang harus diajukan sebelum sampai pada persoalan kualitas: Siapa yang dapat mengakses pendidikan yang berkualitas tersebut? Pertanyaan ini penting karena pendidikan tidak berlangsung dalam ruang sosial yang sepenuhnya setara.
Pierre Bourdieu dan Jean-Claude Passeron, misalnya, menunjukkan bahwa sistem pendidikan dapat berhubungan dengan reproduksi ketimpangan sosial. Latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya seseorang memengaruhi modal yang dibawanya ketika memasuki ruang pendidikan. Mereka yang tumbuh dalam lingkungan dengan dukungan ekonomi, budaya, jaringan sosial, serta akses terhadap sumber-sumber pengetahuan tertentu memiliki posisi awal yang berbeda dengan mereka yang tidak memiliki keuntungan tersebut. Karena itu, keberhasilan akademik tidak dapat sepenuhnya dijelaskan hanya melalui kerja keras dan kemampuan individual.
Ada mahasiswa yang dapat berkonsentrasi penuh pada studi karena kebutuhan dasarnya terpenuhi. Ada yang memiliki akses terhadap buku, teknologi, ruang belajar, dan jaringan akademik. Tetapi ada pula yang harus membagi waktu antara belajar dan bekerja, atau bahkan harus menghentikan rencana pendidikan karena tidak mampu membayar biaya yang diperlukan. Naskah GMKI Awards sendiri menempatkan persoalan ini secara eksplisit: terdapat orang yang memiliki kemampuan akademik tetapi tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan.
“Dengan demikian, pendidikan tidak hanya merupakan persoalan kemampuan dan kerja keras, tetapi juga persoalan akses terhadap kesempatan”
Di sinilah konsep keadilan menjadi relevan. Jika pendidikan dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kapasitas manusia, maka ketidakmampuan seseorang mengakses pendidikan karena hambatan ekonomi bukan sekadar persoalan individual. Ia merupakan persoalan sosial karena menentukan sejauh mana seseorang memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya.
Dari Kesempatan Formal menuju Kesempatan Substantif
Dalam perspektif capability approach yang dikembangkan Amartya Sen, kebebasan manusia tidak cukup diukur dari ada atau tidaknya pilihan secara formal. Yang lebih penting adalah apakah seseorang benar-benar memiliki kemampuan untuk menggunakan pilihan tersebut.
Seseorang mungkin secara formal memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan. Perguruan tinggi mungkin terbuka untuk semua orang. Program studi mungkin tersedia. Beasiswa mungkin dapat dilamar.
Tetapi hak formal tidak selalu menghasilkan kesempatan substantif. Jika biaya pendidikan terlalu tinggi bagi seseorang, maka keberadaan perguruan tinggi secara formal belum tentu berarti bahwa orang tersebut memiliki kebebasan nyata untuk mengaksesnya.
Di sinilah GMKI Awards dapat dibaca sebagai upaya mengubah kesempatan formal menjadi kesempatan yang lebih substantif. Program beasiswa tidak serta-merta menghapus ketimpangan pendidikan. Ia juga tidak dapat menggantikan tanggung jawab negara. Namun, ketika hambatan biaya berhasil dikurangi, seseorang memperoleh ruang yang lebih besar untuk menggunakan kemampuan yang sebelumnya terhambat oleh kondisi ekonomi.
Dengan kata lain, nilai sebuah beasiswa tidak hanya terletak pada nominal bantuan yang diberikan. Nilainya terletak pada kapabilitas yang mungkin lahir setelah hambatan tersebut dikurangi. Seseorang yang sebelumnya tidak dapat melanjutkan studi memperoleh kesempatan untuk belajar.
Dari pendidikan tersebut mungkin lahir pengetahuan baru, kompetensi baru, jaringan baru, penelitian baru, dan kontribusi sosial baru. Karena itu, keberhasilan program pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: berapa orang yang menerima? Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa besar kapasitas manusia yang berhasil dikembangkan?
GMKI Awards sebagai Intervensi Masyarakat Sipil
Pada titik ini, posisi GMKI perlu ditempatkan secara proporsional. Pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Konstitusi menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa. Perguruan tinggi juga memiliki fungsi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan sumber daya manusia.
GMKI tidak dapat menggantikan negara dan tidak pula menggantikan perguruan tinggi. Namun, organisasi masyarakat sipil memiliki ruang untuk melakukan intervensi sosial melalui berbagai bentuk kerja kelembagaan. GMKI Awards dapat dipahami dalam kerangka tersebut: sebagai usaha organisasi untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi kelompok yang menjadi bagian dari komunitas kader dan gereja.
Dengan perspektif ini, GMKI Awards tidak seharusnya ditempatkan sebagai pengganti kebijakan publik. Ia lebih tepat dilihat sebagai pelengkap sekaligus kritik sosial terhadap kenyataan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi masih menghadapi hambatan ekonomi.
Sebuah organisasi masyarakat sipil tidak harus mengambil alih tugas negara untuk menunjukkan bahwa terdapat persoalan yang perlu diselesaikan. Terkadang, tindakan konkret justru menjadi cara untuk menunjukkan adanya kesenjangan antara hak yang secara normatif dijamin dengan kesempatan yang secara nyata tersedia. Karena itu, keberadaan GMKI Awards sekaligus mengandung pesan bahwa akses pendidikan merupakan persoalan yang harus terus diperjuangkan oleh berbagai aktor sosial.
Pendidikan dalam Perspektif Kaderisasi
Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa pendidikan tinggi memiliki arti khusus bagi GMKI? Jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa pendidikan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Bagi GMKI, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kaderisasi.
GMKI merupakan ruang pembentukan mahasiswa yang tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga untuk membaca persoalan masyarakat, gereja, dan bangsa hingga membentuk pemimpin yang ahli pada bidangnya. Di dalam proses tersebut, pengetahuan menjadi bagian penting dari pembentukan kepemimpinan.
Dalam semangat Ecclesia et Patria, iman dan kehidupan kebangsaan tidak seharusnya dipisahkan. Pengetahuan yang diperoleh seorang kader seharusnya menemukan relevansinya dalam tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Karena itu, pendidikan tinggi bagi kader GMKI seharusnya tidak menghasilkan manusia yang sekadar memiliki gelar. Ia harus menghasilkan manusia yang memiliki kapasitas untuk memahami persoalan, menyusun gagasan, mengambil keputusan, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan. Dalam konteks inilah GMKI Awards memiliki dimensi kaderisasi yang penting.
Beasiswa bukan tujuan akhir. “Manusia yang berkembang melalui kesempatan pendidikan itulah tujuan yang lebih mendasar”.
Dari Output menuju Outcome dan Impact
Sebanyak 750 penerima beasiswa S2 dan S3 serta sekitar 400 penerima beasiswa profesi yang jika ditotalkan ada sekitar 1150 orang. Ini semua merupakan capaian GMKI Awards yang patut diapresiasi. Tetapi angka tersebut belum menjelaskan apa yang berubah setelah program diberikan. Karena itu, evaluasi perlu bergerak menuju outcome dan impact.
Outcome dapat dilihat dari perubahan kapasitas penerima manfaat: apakah mereka berhasil menyelesaikan studi, meningkatkan kompetensi, menghasilkan penelitian, memperluas jaringan akademik, atau memperoleh kemampuan baru.
Sementara impact harus melihat konsekuensi yang lebih luas: apakah pengetahuan mereka kembali kepada masyarakat? Apakah mereka berkontribusi kepada gereja? Apakah mereka memperkuat organisasi? Apakah mereka menjadi mentor? Apakah mereka menghasilkan kebijakan, penelitian, atau inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukanlah bentuk ketidakpercayaan terhadap GMKI Awards. Justru sebaliknya. Semakin besar potensi sebuah program, semakin serius pula evaluasi terhadap dampaknya harus dilakukan.
“Program yang baik tidak cukup hanya menghasilkan penerima manfaat. Program yang baik harus menghasilkan perubahan”
Dari Penerima Manfaat Menjadi Produsen Pengetahuan
Jika pendidikan dipahami sebagai investasi manusia, maka hubungan antara penerima dan pemberi manfaat tidak boleh berhenti pada transaksi satu arah.
Seorang penerima GMKI Awards seharusnya tidak berhenti sebagai orang yang pernah menerima bantuan. Ia dapat menjadi produsen pengetahuan. Ia dapat menjadi peneliti, dosen, pemimpin, aktivis, profesional, penggerak masyarakat, atau pelayan gereja. Ia dapat menulis, mengajar, melakukan penelitian, membuka jaringan, menjadi mentor, dan membantu kader lain memperoleh kesempatan yang sama.
Dengan demikian, program beasiswa dapat membentuk sebuah rantai reproduksi pengetahuan. Seseorang memperoleh kesempatan. Ia mengembangkan kapasitas. Kapasitas tersebut kemudian digunakan untuk menciptakan kesempatan bagi orang lain.
Di titik ini, GMKI Awards dapat berkembang dari program bantuan pendidikan menjadi ekosistem pengetahuan dan kaderisasi. Gagasan tersebut penting karena kaderisasi yang sehat tidak hanya menghasilkan individu yang berhasil secara personal. Kaderisasi yang sehat menghasilkan manusia yang mampu membuat orang lain bertumbuh.
Tantangan Keberlanjutan: Program atau Institusi?
Persoalan berikutnya adalah keberlanjutan. GMKI Awards hadir pada masa bakti Pengurus Pusat GMKI 2025�"2027. Namun pendidikan memiliki horizon yang jauh lebih panjang daripada satu periode kepengurusan.
Karena itu, pertanyaan kelembagaan menjadi penting: Apakah GMKI Awards akan berhenti sebagai program sebuah kepengurusan, atau berkembang menjadi institusi kaderisasi pendidikan GMKI? Perbedaan antara keduanya sangat mendasar.
Sebuah program dapat berakhir ketika periode kepengurusan berakhir. Sebaliknya, sebuah institusi memiliki mekanisme yang memungkinkan gagasan dan manfaatnya diwariskan lintas generasi. Karena itu, keberlanjutan GMKI Awards perlu dibangun melalui penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi, sistem pendataan penerima manfaat, jaringan alumni, mekanisme mentoring, pengembangan kontribusi alumni, serta sistem kelembagaan yang tidak bergantung sepenuhnya pada figur atau periode kepengurusan tertentu.
Sekitar 1150 orang penerima manfaat merupakan modal sosial dan intelektual yang besar. Jika mereka dapat dihubungkan dalam sebuah jaringan, GMKI tidak hanya memiliki alumni penerima beasiswa. GMKI memiliki jaringan orang-orang dengan pengalaman akademik, keahlian, profesi, dan wilayah pengabdian yang beragam.
“Dalam jangka panjang, jaringan tersebut dapat menjadi modal pengetahuan bagi GMKI, gereja, dan bangsa”
Pendidikan sebagai Kebebasan
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai GMKI Awards membawa kita kembali kepada pertanyaan mengenai kemerdekaan. Apa hubungan beasiswa pendidikan dengan kemerdekaan?
Hubungannya terletak pada makna kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai keadaan ketika suatu bangsa terbebas dari penjajahan politik. Kemerdekaan juga memiliki dimensi yang lebih substantif: kemampuan manusia untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Dalam perspektif tersebut, pendidikan memiliki posisi strategis. Pengetahuan memperluas kemampuan manusia untuk memahami dunia. Pendidikan memperbesar kapasitas seseorang untuk mengambil keputusan. Pendidikan memungkinkan seseorang membaca realitas secara lebih kritis dan menentukan pilihan berdasarkan pengetahuan.
Sebaliknya, keterbatasan akses pendidikan dapat mempersempit pilihan hidup. Karena itu, ketika hambatan terhadap pendidikan dikurangi, yang diperluas bukan hanya akses terhadap ruang kuliah. Yang diperluas adalah kapasitas manusia untuk menentukan masa depannya.
Di sinilah pendidikan memiliki hubungan dengan kemerdekaan. Semangat “mencerdaskan kehidupan bangsa” tidak hanya dapat dibaca sebagai agenda pembangunan sumber daya manusia, tetapi juga sebagai agenda memperluas kebebasan substantif warga negara.
Dalam kerangka tersebut, GMKI Awards dapat dibaca sebagai sebuah ikhtiar masyarakat sipil dalam skala terbatas untuk memperluas ruang kebebasan tersebut. Ia bukan pengganti negara. Ia bukan solusi tunggal atas ketimpangan pendidikan. Tetapi ia menunjukkan bahwa kemerdekaan dapat diisi melalui tindakan konkret yang memperluas kesempatan manusia untuk belajar dan berkembang.
Mengisi Kemerdekaan dengan Memperluas Kesempatan
Sekitar 1150 orang penerima manfaat GMKI Awards tentu merupakan capaian yang luar biasa. Tetapi angka tersebut seharusnya tidak menjadi titik akhir. Justru ia harus menjadi pertanyaan baru. Berapa banyak lagi orang yang masih kehilangan kesempatan karena persoalan biaya? Berapa banyak kader yang memiliki kemampuan tetapi belum memiliki akses? Berapa banyak pengetahuan yang dapat lahir apabila lebih banyak orang memperoleh kesempatan untuk belajar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak pernah selesai hanya dengan satu program. GMKI Awards adalah sebuah intervensi pada satu bagian dari persoalan yang jauh lebih besar.
Karena itu, keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya beasiswa yang diberikan, tetapi oleh kemampuan program tersebut membangun perubahan yang berkelanjutan: meningkatkan kapasitas penerima manfaat, memperkuat jaringan pengetahuan, memperluas kontribusi sosial, dan melahirkan generasi yang mampu membuka kesempatan bagi generasi berikutnya.
Di situlah pendidikan bertemu dengan kaderisasi. Di situlah kaderisasi bertemu dengan keadilan sosial. Dan di situlah pendidikan bertemu dengan kemerdekaan. Sebab manusia yang merdeka bukan hanya manusia yang terbebas dari tekanan. Ia adalah manusia yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menentukan masa depannya. Karena itu, membuka akses terhadap pendidikan berarti memperluas ruang bagi manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan menentukan arah hidupnya.
GMKI Awards mungkin merupakan ikhtiar kecil di tengah besarnya persoalan pendidikan Indonesia. Namun ukuran keberhasilan sebuah ikhtiar tidak selalu terletak pada seberapa besar ia terlihat. Kadang ukuran keberhasilannya justru terletak pada perubahan yang terjadi pada manusia yang disentuhnya.
Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi berapa banyak orang yang telah menerima kesempatan, melainkan: berapa banyak dari mereka yang kelak mampu mengubah kesempatan itu menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pengabdian, dan pengabdian menjadi kesempatan baru bagi orang lain?
Sebab mengisi kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan kebebasan yang telah diperoleh. Ia juga tentang memastikan agar semakin banyak manusia memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menentukan masa depannya.