Yang Hilang Bukan Buku, Melainkan Keinginan untuk Menyelami Makna

Oleh : Bintang Lesmana Hutasoit
Redaksi

jurnalpemerintahan.com -Saya sering memperhatikan satu hal sederhana di lingkungan sekitar sekolah. Perpustakaan memang tidak selalu sepi, terkadang sangat ramai. Tetapi ada sesuatu yang terasa janggal. Buku yang benar-benar dibaca dengan sungguh-sungguh jauh lebih sedikit daripada yang kita bayangkan. Banyak siswa datang, membuka buku, membaca beberapa halaman, kemudian menutupnya kembali tanpa benar-benar tenggelam dalam isi bacaan. Dari kebiasaan kecil itu, saya mulai berpikir bahwa masalah literasi kita bukan sekadar soal akses buku, tetapi soal kemauan untuk memahami.

Hari ini, kita hidup di tengah banjir informasi. Setiap detik ada hal baru yang muncul di media sosial, dari berita, hiburan, hingga opini yang berseliweran tanpa henti. Namun ironinya, semakin banyak informasi yang dikonsumsi, semakin rendah pula daya kritis dan cara Sebagian untuk memahaminya. Terbiasa membaca cepat, sekilas, dan instan. Yang penting tahu sedikit, bukan benar-benar paham secara utuh.

Menurut saya, inilah akar masalahnya kita sedang membentuk generasi yang terbiasa mengetahui banyak hal, tetapi tidak terbiasa memahami apa pun secara mendalam.

Hal ini bukan hanya sekadar pengamatan di lapangan. Data internasional juga menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Dalam laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD, Indonesia berada pada posisi bawah dalam kemampuan membaca. Lebih dari 70% siswa Indonesia tidak mencapai tingkat kemampuan minimum yang diperlukan untuk memahami teks kompleks. Meskipun ada sedikit perbaikan pada laporan terbaru, secara umum Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain di Asia seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.

Data Nasional pun menunjukkan hal serupa. Banyak siswa masih kesulitan memahami teks panjang, menyimpulkan isi bacaan, atau menghubungkan informasi dari berbagai sumber. Bahkan dalam beberapa asesmen literasi, kemampuan memahami teks informatif dan naratif masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Artinya, masalah ini bukan persoalan satu sekolah atau satu daerah, tetapi sudah bersifat sistemik.

Di sekolah, gejala ini terlihat sangat jelas. Banyak siswa mampu menjawab soal dengan cepat karena terbantu ringkasan, catatan, atau bahkan mesin pencari di internet. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik jawabannya, mereka sering kali ragu atau tidak bisa menjelaskan dengan runtut. Mereka tahu hasilnya, tetapi tidak memahami prosesnya.

Membaca panjang dianggap membosankan, berpikir lama dianggap tidak efisien, dan memahami secara mendalam dianggap membuang waktu. Padahal justru dari proses yang panjang dan tidak instan itulah kemampuan literasi seharusnya tumbuh.

Di titik ini, menurut saya, telah terjadi pergeseran besar dalam Pendidikan dari proses memahami menjadi sekadar menyelesaikan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita akan menghadapi generasi yang cepat menjawab, tetapi mudah bingung ketika pertanyaan sedikit berubah bentuk.

Masalah ini, menurut saya, lebih dalam dari sekadar rendahnya minat baca. Yang terjadi adalah hilangnya budaya berpikir perlahan. Kita hidup di era yang sangat menghargai kecepatan, tetapi sering kali meremehkan kedalaman. Padahal proses berpikir yang benar justru membutuhkan waktu, pengulangan, dan ketidaksempurnaan.

Pada titik ini, literasi bukan lagi hanya soal kemampuan membaca teks, tetapi soal kesabaran intelektual. Pada akhirnya, masalah kita bukan kekurangan buku atau informasi. Kita justru kekurangan kebiasaan untuk berhenti sejenak, membaca lebih dalam, dan benar-benar memahami apa yang ada di depan kita.

Literasi bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah kemampuan berpikir, menimbang, dan memahami dunia secara utuh. Dan jika kebiasaan itu tidak dibangun dari sekarang, kita mungkin akan memiliki generasi yang sangat cepat mengetahui banyak hal, tetapi sangat jarang benar-benar memahami apa pun.

Saya kira juga kita tidak cukup hanya menyeru “lebih banyak membaca”, karena yang dibutuhkan adalah perubahan cara memandang pengetahuan itu sendiri. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pengukuran apa yang diketahui, tetapi harus kembali pada hakikatnya yaitu membentuk cara berpikir. Penilaian bukan sekadar soal jawaban benar, melainkan bagaimana seseorang memahami, menalar, dan memberi makna pada apa yang ia pelajari. Dengan begitu, belajar tidak lagi menjadi proses mengisi kepala, tetapi proses melatih kesadaran berpikir.

Literasi perlu dikembalikan sebagai pengalaman, bukan sekedar kewajiban. Membaca seharusnya menjadi ruang pertemuan antara pikiran dan makna, bukan tugas yang harus diselesaikan dengan cepat. Teknologi pun tidak seharusnya menjadi jalan pintas menuju jawaban, melainkan pintu untuk memperdalam pertanyaan. Pada akhirnya, yang kita perlukan bukan sekadar lebih banyak informasi, tetapi kedalaman dalam memahami sebab mengerti tidak diukur dari seberapa cepat kita tahu, melainkan seberapa dalam kita mampu menangkap maknanya.

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait