Refleksi Hari Kartini, Sekcab GMKI Gunungsitoli Yemima Gulo: Emansipasi Bukan Sekadar Simbol, Tapi Kedaulatan Gagasan!

Redaksi

jurnalpemerintahan.com -GUNUNGSITOLI â€" Sekretaris Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Gunungsitoli, Yemima Kristina Gulo, mengeluarkan pernyataan tajam dalam memperingati Hari Kartini tahun ini. Ia menyerukan dekonstruksi terhadap makna emansipasi yang selama ini sering kali hanya direduksi menjadi perayaan seremonial tanpa bobot intelektual.

Yemima menegaskan bahwa sosok R.A. Kartini adalah seorang revolusioner pemikiran yang mendobrak kemapanan struktur feodal melalui tulisan dan kritik. Hal inilah yang menurutnya harus diwarisi oleh perempuan-perempuan di Kepulauan Nias.

"Kita harus jujur, hari ini perempuan sering kali masih ditempatkan di pinggiran nalar publik. Dalam peringatan Hari Kartini ini, saya mendesak seluruh perempuan Nias, terutama kaum intelektual muda, untuk berani keluar dari zona nyaman. Jangan hanya hadir sebagai pelengkap kuota, tapi hadirlah sebagai penentu kebijakan. Emansipasi sejati adalah kedaulatan gagasan," tegas Yemima di Sekretariat GMKI Gunungsitoli, (21/04).

Aktivis perempuan ini menyoroti masih kuatnya tembok patriarki dan domestikasi yang membelenggu potensi perempuan di daerah. Ia mengajak para perempuan untuk tidak takut menjadi kritis dan vokal dalam menyuarakan hak-haknya.

"Rezim keheningan harus kita akhiri. Menjadi perempuan bukan berarti harus tunduk pada ketidakadilan. Kita butuh Kartini-Kartini baru yang berani menginterupsi ruang-ruang publik, berani berdebat dengan data, dan berani berdiri paling depan untuk membela hak perempuan yang tertindas. Jika Kartini dulu berjuang dengan pena, kita hari ini harus berjuang dengan kecerdasan dan keberanian bersuara," lanjut mahasiswi yang dikenal vokal ini.

Lebih jauh, Yemima mengingatkan bahwa GMKI sebagai organisasi pengaderan memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan kader perempuan yang tangguh secara ideologis. Ia berkomitmen agar GMKI Gunungsitoli terus menjadi laboratorium bagi perempuan untuk mengasah nalar kritis dan kepemimpinan.

"Di bawah panji Ut Omnes Unum Sint, kita dipanggil untuk memulihkan harkat kemanusiaan tanpa memandang gender. Saya bermimpi melihat perempuan Nias memimpin diskusi-diskusi berat tentang ekonomi, politik, dan hukum. Jangan mau dibatasi oleh persepsi orang lain tentang diri kita," tambahnya.

Mengakhiri pernyataannya, Yemima memberikan pesan penutup yang provokatif dan membangun.

"Habis gelap terbitlah terang bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari benturan pemikiran dan aksi nyata. Mari kita nyalakan api keberanian itu mulai hari ini. Beranilah kritis, karena hanya dengan begitu kita benar-benar merdeka," tutup Yemima Kristina Gulo.

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Berita

Tragedi 15 Warga Tewas di Puncak: PBH GMKI Desak Audit Total Satgas Habema

Berita

Polemik Pernyataan Jusuf Kalla, Ketua Bidang Organisasi PP GMKI Beri Seruan : Kader GMKI dan Eks Ketum Harus Taat Konstitusi Organisasi

Berita

GMKI Desak Polda Kepri Usut Tuntas Kematian Bripda Natanael Simanungkalit secara Transparan dan Akuntabel.

Berita

GOVERNMENTPRENEUR DAN TEROBOSAN ARA SIRAIT

Berita

Sampah dan Masa Depan Lingkungan di Indonesia: Krisis, Tantangan, dan Solusi

Berita

Belum Ada Permintaan Maaf, Sejumlah Fasilitas yang Disorot Tetap Direalisasikan — GMKI Palembang Pertanyakan Nurani Pimpinan DPRD.