Ada sebuah ungkapan, bahwa motivasi paling indah dalam melakukan kebaikan adalah ketika ia mendatangkan rasa senang, sukacita saat melakukannya. “When I do good, I feel good. When I do bad, I feel bad,” kata Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat.
Itu tampaknya yang dirasakan oleh Drg Annita, yang dikenal sebagai Srikandi Kemanusiaan Yayasan Surya Kebenaran Internasional (YSKI). Beberapa orang bahkan menjulukinya “Dokter Baksos”, akibat begitu seringnya alumnus FKG USU itu memimpin tim melakukan bakti sosial di berbagai tempat. Mulai dari daerah pinggiran rel di Mandala, sampai perkampungan di tepi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun, di Marelan.
“Menolong orang mendatangkan kegembiraan, sukacita bagi saya. Jadi, tidak ada paksaan atau dirasa menjadi beban,” katanya.
Meski masih aktif menekuni profesi sebagai dokter gigi, namun hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk kegiatan sosial untuk membantu kaum kurang mampu.
Inspirasinya ternyata kedua orang tuanya sendiri. “Sejak kecil di Kabanjahe, Tanah Karo, saya sudah melihat kedua orang tua saya kerap menolong orang lain,” tuturnya. Purwanto ayahnya dan Herlina ibunya dulu membuka kedai kopi di Pasar Kabanjahe yang kemudian berubah nama jadi Toko Kabanjahe. Dia sendiri juga lahir di sana.
Terbiasa melihat almarhum ayahnya dan juga ibunya menolong orang, ternyata membuatnya juga terdorong selalu berbakti kepada kaum lemah.
"Dulu bapak saya suka nolong orang. Orang-orang dari desa tiap ke kota jadi kayak saudara kami sendiri dibuat Bapak. Kadang makan di rumah, tinggal di rumah. Jadi inspirasi saya Bapak saya sendiri," kenang Annita.
Satu hal yang membuat Anita suka menolong karena semakin bertambahnya rezeki pada dirinya. Seperti ayahnya yang pada masa itu hanya membuka kedai kopi dan serba pas-pasan, tetapi tetap berbagi.
"Itu yang saya lihat, jadi saya selalu tergerak menolong dan sampai saat ini tetap masih suka menolong," ujar Annita.
Di YSKI, Anita dipercaya menjadi koordinator kemanusiaan, memimpin tim relawan yang sudah menjadi tumpuan harapan banyak orang di mana-mana.
Bersama suami tercinta, mereka dikaruniai dua orang putra yang juga mengikuti jejaknya di FKG, USU.
“Sejauh masih diberi kesehatan dan kemampuan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan terus memberi hati menolong sesama. Tidak ada hal yang lebih indah daripada kasih sayang kepada orang yang membutuhkan,” katanya.