Sebelum pandemi sesungguhnya telah terjadi tren secara global runtuhnya satu per satu media cetak terkemuka. Perunbahan cara masyarakat mendapat informasi dengan kehadiran telepon pintar telah membuat media cetak semakin kehilangan tempat. Terlebih lagi era disrupsi dan pandemi menjadi semacam gelombang tsunami yang menghantam berbagai media cetak.
Oleh karena itu, mau-tak-mau media cetak harus bertransformasi dan mengikuti tren industri saat ini agar tetap bertahan. Di antaranya, dengan menyeriusi versi digital,memperkuat inovasi versi cetak, hingga menjalankan transformasi digital dengan sepenuh hati. Jurnal Pemerintahan mau tidak mau juga mengikuti perubahan ini dan sekarang bertransformasi menjadi digital, dengan fokus konten yang relatif sama dengan format sebelumnya.
Demikian kesimpulan rapat pertemuan Tim Ahli dan Redaksi Jurnal Pemerintahan di Kantor JP, Jumat (4/5/2022) siang .
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Dr RE Nainggolan, MM, Pdt R Bambang Jonan, John Eron Lumbangaol, SE, Dr Edward H Simanjuntak, MM, Drs Nabari Ginting, Dr Abdiyanto, MSi, PhD, Parapat Gultom, PhD, Drs Murbanto Sinaga, MA, Ir Washington Tambunan, Turunan Gulo, SP, MSP, Sihar Cibro, drg Annita, Jadi Pane, Ronald Naibaho, Toga Nainggolan, dan Sry Agustin. Sementara tim ahli lainnya mengikuti secara daring (online).
“Jurnal Pemerintahan bertransformasi dari media cetak bulanan menjadi portal berita online atas berbagai pertimbangan, terutama sekali masalah biaya (cost) dan perubahan besar format media massa secara umum,” ujar RE Nainggolan.
Fokus konten relatif tetap sama, seputar pemerintahan baik di pusat maupun daerah. Diharapkan peran serta seluruh keluarga besar JP untuk ikut serta menyebarluaskan tautan (link) berita-berita JP terutama di tahap-tahap awal ketika publik belum mengetahui keberadaan JP, untuk membangun brand awareness.
Disampaikan birokrat senior yang pernah dipercaya menjadi Sekdaprovsu dan Bupati Tapanuli Utara ini, Jurnal Pemerintahan sebenarnya sudah dikenal secara nasional karena memang didistribusikan ke seluruh kementerian dan lembaga negara, provinsi di Indonesia,dan kabupaten/kota di Sumut. “Namun, kita tidak bisa menghindar dari fakta bahwa cost yang terlalu besar, terutama untuk percetakan dan distribusi ke seluruh Indonesia, membuat JP tidak bisa bertahan karena harus selalu disubsidi,” katanya.
Pria yang juga pernah memimpin Dinas Informasi dan Komunikasi Sumut ini berharap JP bisa ikut membangun tata kelola pemerintahan yang lebih baik karena memiliki tim ahli dengan pengalaman luas di bidang pemerintahan, baik eksekutif maupun legislatif.
“Kita juga merencanakan adanya agenda diskusi bulanan atau dwi bulanan dengan topik-topik yang ditentukan, sehingga JP tidak sekadar media berita, tetapi juga tempat lahirnya berita itu sendiri,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Pdt Bambang Jonan mengingatkan perlunya memperbanyak muatan berita lokal sehingga JP punya konten yang tidak bisa ditemukan pada media lain, terutama media nasional. Dari berbagai survei diketahui bahwa media yang hanya memuat berita nasional akan kalah dengan media dengan muatan lokal.
“Muatan lokal yang kami maksud juga bisa dikaitkan dengan kebijakan nasional. Misalnya, gencarnya penataan masalah pertanahan secara nasional dipastikan punya dampak di Sumatera Utara,” ujarnya sembari menyatakan kesediaan untuk memfasilitasi pembuatan talk show di studio yang sudah disiapkan.
Tim ahli yang juga dosen USU, Murbanto Sinaga mengatakan media sekarang harus bisa menampilkan berita secara simpel dan segar, seperti moto KISS, Keep It Simple, Stupid! Tanpa kesegaran dan daya tarik yang menghibur, orang akan cepat beralih ke berita atau portal lain.
“Yang perlu dicatat, dalam posting atau konten yang ringan dan segar itu, harus dipastikan ada pesan-pesan yang tersampaikan kepada pembaca,” ujar alumni University of Wisconsin-Madison, AS itu.
Rekannya sesama dosen USU, Parapat Gultom, PhD berharap sesuai namanya, JP harus bisa menjadi referensi bahkan secara akademik, terutama dalam kaitan pemerintahan. “Banyak orang di pemerintahan sekarang membutuhkan pengetahuan dan pengalaman birokrasi yang dimiliki para tim ahli JP. JP harus bisa hadir sebagai media edukasi, terutama bagi para pemangku kepentingan di pemerintahan,” ujar lulusan Kansas State University, AS itu.
Lebih jauh lagi dia berharap JP harus menjadi media dengan muatan futuristik, dalam arti memiliki visi dan pemikiran bagaimana tata kelola pemerintahn ke depan, termasuk dalam menyikapi perubahan dunia yang terjadi begitu cepat.
Biroktat senior Edward Simanjuntak mengungkapkan banyak sekali perubahan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. “Sebagai contoh, ketika dulu anak dipukul guru, kemudian mengadu ke orang tuanya, maka anak bisa jadi akan mendapatkan satu pukulan lagi dari orang tuanya. Sementara sekarang, orang tua murid akan datang mengamuk kepada guru tersebut,” katanya.
JP harus bisa berperan dalam perubahan ini, agar publik tetap berpegang pada nilai-nilai luhur. Harus bisa menjadi media yang edukatif, terutama kepada para pejabat yang saat ini masih bertugas.
Di kesempatan selanjutnya, Nabari Ginting berharap JP bisa menjadi media yang memastikan kita tidak kehilangan keterikatan dengan budaya dan tradisi kita yang luhur. Saat ini generasi muda sudah sangat jauh tercabut dari akar budayanya, menjadi anak yang kehilangan pengetahuan kepada bahasa ibunya.
“JP perlu mempertimbangkan adanya rubrik atau kolom budaya, atau memberi porsi dan perhatian kepada upaya pemeliharaan budaya dan tradisi, termasuk mengawal pemerintah untuk memberi perhatian kepada hal tersebut,” ujar birokrat yang kaya pengalaman ini.
Pada bagian lain, Turunan Gulo yang dikenal punya pengalaman luas dalam mengelola media massa, pemberdayaan dan advokasi, serta penyelenggaraan pemilu menggarisbawahi kebutuhan akan SDM dan instrumen yang memadai untuk membangun media yang berkualitas. “Sangat diperlukan adanya konten eksklusif yang tidak dapat ditemukan di media lain, terutama liputan mendalam berbentuk feature. Hal seperti itulah yang membuat media seperti Tempo bisa bertahan saat ini.
“Dulu kita pernah membuat media Parliament Watch dan Otonom. Liputan mendalam dengan data dan penulisan yang enak dibaca membuat orang tertarik untuk membaca. Selain itu, JP juga perlu memproduksi konten dalam bentuk multimedia, kemudian membangun Fanpage di FB dan media sosial lainnya karena ke depan, kita tidak bisa berharap pada masing-masing pribadi untuk menyebarkan link (tautan) melalui WA masing-masing,“ katanya.
Sementara itu, tokoh pemuda dan pendidikan yang juga kaya pengalaman politik, Abdi Yanto mengatakan keberadaan tim ahli JP merupakan aset luar biasa. Para senior ini bisa berperan memberikan arahan kepada para pejabat yang sekarang ini. “JP harus bisa menjadi media panduan kepada mereka karena didirikan oleh orang-orang yang sudah memiliki pengalaman luar biasa, baik prareformasi maupun saat ini. Tinggal bagaimana redaksi bisa meramu khazanah dan pengalaman para senior ini untuk bisa dipahami oleh para pembaca,” katanya.
Dia tambahkan, di tengah banjirnya informasi, JP harus bisa menjadi suluh dengan informasi yang akurat, terverifikasi, dan punya muatan mendidik.
Politisi yang telah malang melintang di berbagai lembaga politik, John Eron Lumbangaol mengatakan JP harus jadi bacaan utama para pejabat baik eksekutif maupun legislatif. Beda sekali para birokrat dan politisi dahulu dengan sekarang. JP juga harus bisa membangun ketertarikan di kalangan generasi muda untuk tidak apatis terhadap politik dan pemerintahan.
“Bila perlu, JP juga bisa menjadi sarana pengaduan masyarakat, untuk menyampaikan kritik yang membangun, tetap santun, agar roda pemerintahan bisa berjalan dengan baik, dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.
JP harus berani menyuarakan kritik, mengawal jalannya pemerintahan, memberikan ruang advokasi kepada publik. Ikut bersedia memberikan kontribusi untuk memastikan JP bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Washington Tambunan mengungkapkan meskipun dirinya masih termasuk golongan “lama” yang mengandalkan surat kabar cetak, dia tetap mengakui bahwa saat ini terjadi perubahan media.
“JP harus bisa hadir menyikapi sekaligus mengawal perubahan itu. Bagaimana para senior dengan pengalamannya, dipadukan dengan redaksi yang memiliki pengetahuan terhadap situasi terkini. Dengan demikian JP bisa menjadi jembatan perubahan,” harapnya.
Pada bagian akhir, drg Annita yang dikenal luas sebagai Srikandi Kemanusiaan Yayasan Surya Kebenaran Internasional (YSKI) berharap JP bisa menjadi bentuk perhatian dan sumbangsih kepada masyarakat dan pemerintahan. Semua pekerjaan yang dilakukan dengan hati, merupakan sumbangsih dan kontribusi kepada masyarakat.