PROLOG
“Ide tulisan ini saya renungkan pada malam
hari yang dingin setelah seharian lelah bekerja di kampus dan melayani pasien
di rumah sakit dan diklinik praktek mandiri. Ditambah lagi setelah berdiskusi
lewat telepon seluler dengan seorang sahabat yang aktif, cerdas dan sangat
memberi perhatian akan kondisi UHKBPN”.
Universitas HKBP Nommensen (UHKBPN) akan
memilih rektor untuk periode 2027â€"2031. Pemilihan ini berlangsung di tengah
krisis nyata yakni mahasiswa baru turun 53,1% dalam lima tahun dan mengancam
keberlanjutan finansial institusi. Di sivitas akademika menguat opini bahwa
diperlukan penyegaran. Digunakan metafora “Kapten Timnas” yakni pemimpin yang
ikut bermain di lapangan, mengenakan ban kapten atas nama seluruh tim, dan
bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Tinjauan ini membahas
kriteria dan prinsip, bukan menilai atau mendukung calon tertentu. Tujuannya
adalah membantu seluruh pemangku kepentingan memilih dengan jernih, jujur dan
bertanggungjawab di hadapan Tuhan dan sesama.
PENDAHULUAN
Dalam waktu dekat UHKBPN akan memilih rektor
untuk periode 2027â€"2031. Masa jabatan empat tahun ini berbeda dari banyak
perguruan tinggi yang menetapkan lima tahun per periode. Perbedaan ini membawa
konsekuensi penting yakni tidak ada waktu untuk masa belajar yang panjang, rektor terpilih harus siap bekerja sejak hari
pertama.
Di kalangan sivitas akademika menguat opini
bahwa UHKBPN membutuhkan penyegaran. Alasannya beragam, kebutuhan energi dan
perspektif baru dan kekhawatiran bahwa cara-cara lama tidak lagi memadai
menghadapi tantangan baru. Opini penyegaran ini sah dan perlu didengar. Namun
penyegaran perlu dipahami dengan tepat. Penyegaran bukan sekadar mengganti
orang, tetapi mengganti cara yaitu cara berpikir, cara memutuskan, dan cara
melayani. Seorang pemimpin baru yang membawa cara lama tidak menyegarkan apa
pun, sebaliknya, kepemimpinan yang
sungguh-sungguh berbenah dapat menghadirkan kesegaran. Karena itu, pertanyaan
utamanya bukan “baru atau lama”, melainkan “siapa yang paling mampu membawa
UHKBPN melewati krisis ini”.
1.
Tantangan
yang Dahsyat
Tantangan UHKBPN saat ini tidak ringan.
Mahasiswa baru turun dari 2.838 orang (2021) menjadi 1.331 orang (2025), atau
âˆ'53,1%, dan seluruh fakultas mengalami penurunan. Per 10 September 2026, daftar
ulang baru mencapai 41,2% dari target Yayasan, dan konversi pendaftar ke daftar
ulang turun menjadi 59,9%. Bagi perguruan tinggi swasta yang sebagian besar
pendapatannya bergantung pada mahasiswa, penurunan ini langsung mengancam
keberlanjutan finansial institusi.
Sepanjang pengamatan dan yang dirasakan saat
ini bahwa UHKBPN berjalan dengan leadership yang minim inovasi dan
kreasi selain tentunya ada faktor-faktor lain. Dengan demikian akar masalah
pertama secara langsung menyangkut kepemimpinan. Karena itu, pemilihan rektor
periode ini bukan rutinitas administratif, melainkan keputusan strategis yang
menentukan arah dan, dalam batas tertentu, keberlangsungan institusi.
2. Mengapa “Kapten Timnas”?
Metafora kapten tim nasional dipilih karena
beberapa alasan. Kapten bukan penonton atau pelatih di pinggir lapangan akan
tetapi ikut bermain, berlari, dan berkeringat bersama tim. Mengenakan ban
kapten bukan untuk dirinya, tetapi sebagai wakil seluruh tim. Tim nasional
terdiri atas pemain dari berbagai klub yang harus disatukan, sebagaimana
universitas terdiri atas berbagai fakultas, unit, dan generasi. Dan tim
nasional bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari klub mana pun, yaitu
bangsa, sejalan dengan motto Pro Deo et Patria, bagi Tuhan dan Ibu Pertiwi.
Metafora ini juga dipadukan dengan gambaran
nakhoda. UHKBPN adalah bagaikan kapal yang harus dikemudikan oleh nakhoda yang
sungguh memahami laut, angin, dan bintang, bukan oleh mereka yang paling pandai
merebut kemudi. Kapal UHKBPN sedang menghadapi badai yang membutuhkan nakhoda
yang cakap, gagah berani dan teruji, bukan sekadar yang popular apalagi “yang
direstui”.
EMPAT
BELAS WAJAH KAPTEN
Bagian
ini menguraikan empat belas wajah kapten atau nakhoda yang dibutuhkan UHKBPN.
Wajah ketiga belas, Pro Deo et Patria, adalah fondasi yang menyatukan dua belas
wajah sebelumnya; wajah keempat belas, pilihan Tuhan, menempatkan seluruh
proses pemilihan di bawah kedaulatan Tuhan. Setiap wajah dilengkapi pertanyaan
uji yang dapat diajukan kepada calon rektor dalam penyampaian visi dan misi atau
uji publik.
1.
Kapten
adalah Rekam Jejak
Kepercayaan dibangun dari apa yang sudah
dikerjakan, bukan dari apa yang dijanjikan. Kredibilitas adalah fondasi
kepemimpinan, dan kredibilitas lahir dari konsistensi antara kata dan
perbuatan: do what you say you will do. Dalam masa krisis dengan masa
jabatan hanya empat tahun, UHKBPN tidak dapat mempertaruhkan diri pada janji
yang belum teruji.
Rekam jejak yang perlu dibaca mencakup
capaian nyata di unit yang pernah dipimpin, kemampuan membenahi masalah sulit,
integritas dalam mengelola keuangan dan kewenangan, serta cara memperlakukan
orang lain ketika tidak ada yang melihat.
Pertanyaan uji: Apa capaian terukur yang pernah Anda hasilkan
di unit yang Anda pimpin, dan bagaimana Anda menghadapi kegagalan?
2.
Kapten
adalah Generator
Generator menghasilkan energi ketika aliran
listrik padam. Kapten yang baik menyalakan semangat tim saat tertinggal skor. Harus
dibedakan kepemimpinan transaksional, yang bertukar imbalan dengan kepatuhan,
dan kepemimpinan transformasional, yang membangkitkan motivasi dan nilai yang
lebih tinggi. Pemimpin transformasional menginspirasi, merangsang gagasan, dan
memperhatikan setiap anggota tim.
UHKBPN membutuhkan generator, bukan sekadar
pengelola rutinitas, pemimpin yang mampu menggerakkan dosen, tendik, dan
mahasiswa untuk berlari bersama mengejar target Renstra.
Pertanyaan uji: Bagaimana Anda akan menggerakkan insan kampus
yang lelah dan pesimis untuk kembali bersemangat?
3.
Kapten
adalah “Mata Air di Padang Gurun”
Di padang gurun, mata air adalah sumber
kehidupan. Ketika institusi berada di masa kering, penuh tekanan, dan
kehilangan harapan, pemimpin dipanggil menjadi sumber kesegaran, memberi
semangat, solusi, dan kehidupan rohani.
Mata air tidak menyedot air dari sekitarnya
akan tetapi mengalirkan air. Pemimpin yang menjadi mata air memberi lebih
banyak daripada yang diambil dari institusi. Inilah makna penyegaran yang
sejati.
Pertanyaan uji: Apa yang akan Anda berikan kepada UHKBPN,
bukan apa yang akan Anda peroleh darinya?
4.
Kapten
adalah Penyambung Lidah
Soekarno dikenal sebagai “Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia”. Kapten tim adalah penyambung lidah antara pemain dan wasit,
antara tim dan pelatih. Rektor adalah penyambung lidah sivitas akademika kepada
Yayasan, HKBP, pemerintah, dan Masyarakat, nasional dan internasional,
sekaligus penyambung lidah visi institusi kepada seluruh insan kampus.
Penyambung lidah yang baik mendengar lebih
dulu sebelum berbicara, dan menyampaikan aspirasi dengan jujur, bukan hanya
yang enak didengar atasan.
Pertanyaan uji: Bagaimana Anda memastikan suara dosen,
tendik, dan mahasiswa sampai ke pengambil keputusan?
5.
Kapten
adalah Simbol Institusi
Perilaku pemimpin, yaitu apa yang diperhatikan,
diukur, dihargai, dan diteladankan, adalah mekanisme utama pembentuk budaya organisasi.
Rektor adalah simbol hidup UHKBPN,cara berbicara, berpakaian, beribadah, dan
mengambil keputusan dibaca sebagai wajah institusi.
Simbol yang kuat menyatukan, simbol yang
retak memecah. Pemimpin yang menjadi simbol harus mampu berdiri di atas semua
golongan, fakultas, dan kelompok.
Pertanyaan uji: Nilai apa yang ingin Anda simbolkan, dan
bagaimana Anda menjaganya dalam keputusan sulit?
6.
Kapten
adalah Duta Institusi
Seorang duta mewakili pihak yang mengutusnya,
bukan dirinya sendiri. Rektor adalah duta UHKBPN di hadapan gereja, pemerintah,
dunia usaha, alumni, calon mahasiswa, dan mitra internasional.
Dalam krisis mahasiswa baru, peran duta
menjadi sangat konkret yakni membuka pintu kemitraan, meyakinkan orang tua
calon mahasiswa, menggalang dukungan alumni dan jemaat, serta membawa nama
UHKBPN ke tingkat nasional dan internasional.
Pertanyaan uji: Jejaring apa yang Anda miliki dan bagaimana
Anda akan memakainya untuk UHKBPN?
7.
Kapten
adalah “Cleaning Service” Institusi
Metafora ini mungkin mengejutkan, tetapi
sangat alkitabiah. Yesus, Tuhan dan Guru, membasuh kaki murid-murid-Nya.
Nehemia, setelah kembali ke Yerusalem, membersihkan bilik Bait Allah yang telah
disalahgunakan. Pemimpin sejati seharusnya adalah sebagai pelayan lebih dahulu
(servant first).
Rektor harus berani membersihkan yang kotor, praktik
yang tidak berintegritas, birokrasi yang menghambat, konflik lama yang
membebani, dan budaya pamrih. Pekerjaan ini tidak populer dan sering tidak
terlihat, tetapi tanpa itu tidak ada pembaruan yang bertahan.
Pertanyaan uji: Apa yang menurut Anda harus “dibersihkan” di
UHKBPN, dan apakah Anda siap menanggung risikonya?
8.
Kapten
adalah “Guaranty Card” Institusi
Kartu garansi adalah jaminan mutu, pembeli
percaya karena ada yang menanggung. Rektor adalah jaminan bagi orang tua yang
menitipkan anaknya, bagi Yayasan yang menitipkan aset, bagi mitra yang
menandatangani kerja sama, dan bagi pemerintah yang memberi izin.
Jaminan hanya bernilai bila penjaminnya dapat
dipercaya. Integritas pribadi dan tata kelola yang bersih (Good University
Governance) adalah isi dari kartu garansi itu.
Pertanyaan uji: Apa jaminan Anda bahwa kepercayaan orang tua,
Yayasan, dan mitra tidak akan disia-siakan?
9.
Kapten
adalah Etalase Institusi
Etalase adalah tempat orang melihat isi toko sebelum
masuk. Yesus berkata: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin tersembunyi”. Rektor adalah etalase UHKBPN dimana publik
menilai mutu universitas dari kualitas, keteladanan, dan komunikasi
pemimpinnya.
Di era media sosial, etalase ini terbuka
setiap saat. Pemimpin perlu mampu menampilkan UHKBPN secara menarik dan jujur,
karena etalase yang memikat tetapi tidak sesuai isi akan merusak kepercayaan.
Pertanyaan uji: Bagaimana Anda akan menampilkan UHKBPN kepada
generasi calon mahasiswa saat ini?
10. Kapten adalah Masa Depan dan Harapan
“Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa
yang ada pada-Ku mengenai kamu ... rancangan damai sejahtera dan bukan
rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”
(Yeremia 29:11). Firman ini disampaikan kepada umat yang sedang dalam
pembuangan. Harapan justru paling dibutuhkan pada masa sukar.
Rektor periode 2027â€"2031 harus mampu
menghadirkan harapan yang realistis, bukan janji kosong, tetapi rencana yang
dapat dipercaya.
Pertanyaan uji: Seperti apa UHKBPN pada 2031 bila Anda
memimpin, dan apa langkah pertama Anda dalam 100 hari?
11. Kapten adalah Kompas
“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah
rakyat” (Amsal 29:18). Tanpa arah yang jelas, organisasi tercerai-berai. Kompas
tidak memberi peta yang lengkap, tetapi selalu menunjuk arah yang benar. Kemampuan
menginspirasi visi bersama (inspire a shared vision) sebagai salah satu
praktik inti kepemimpinan.
Rektor terpilih bertugas memegang kompas yaitu
visi dan misi dengan teguh, terutama ketika tekanan jangka pendek menggoda
untuk berbelok.
Pertanyaan uji: Bagaimana Anda menjaga arah Renstra ketika
menghadapi tekanan jangka pendek?
12. Kapten adalah “Orangtua”
Paulus menggambarkan pelayanannya: “Kami
berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati
anaknya” (1 Tesalonika 2:7), dan “seperti bapa terhadap anak-anaknya” (1
Tesalonika 2:11). Orangtua mengasuh, menegur, melindungi, dan menyiapkan
anak-anaknya untuk masa depan.
Dalam budaya Batak Toba, sosok natua-tua
dihormati karena kebijaksanaan dan kemampuannya mengayomi. Rektor sebagai
orangtua menjadi tempat mengadu, penengah konflik, dan pelindung bagi yang
lemah, tanpa pilih kasih.
Pertanyaan uji: Bagaimana Anda akan memperlakukan mereka yang
tidak mendukung Anda dalam pemilihan?
13. Kapten adalah Pro Deo et Patria
Pemain tim nasional bermain untuk lambang di
dadanya, bukan untuk nama di punggungnya. Bagi UHKBPN, lambang itu adalah motto
Pro Deo et Patria, bagi Tuhan dan Ibu Pertiwi. Motto ini adalah sebagai
pernyataan tujuan lembaga yakni keberadaan UHKBPN dibenarkan oleh misinya,
bukan sekadar oleh kelangsungan hidupnya. Kapten adalah perwujudan hidup dari
motto itu. Ia tidak memimpin untuk dirinya, keluarganya, marganya, atau
kelompoknya, tetapi untuk Tuhan dan bangsa.
Pro Deo berarti kepemimpinan dipahami sebagai
panggilan dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan: “Apa pun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk
manusia” (Kolose 3:23). Kapten yang Pro Deo bekerja dengan takut akan Allah,
jujur ketika tidak diawasi, dan rendah hati ketika berhasil. Ia menyadari bahwa
jabatan rektor adalah titipan, bukan milik.
Pro Patria berarti kepemimpinan diarahkan
bagi kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Kepada umat di pembuangan, Tuhan
berfirman: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan
berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah
kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Yesus juga mengajarkan kesetiaan ganda yang
seimbang yaitu “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada
Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius
22:21).
UHKBPN diresmikan pada 1954, di masa awal
kemerdekaan, dan meneruskan warisan Nommensen yang mempersatukan Injil, pendidikan,
kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Kapten yang Pro Patria memastikan
universitas tetap menjadi berkat bagi Tanah Batak, Sumatera Utara, dan
Indonesia dimana lulusannya melayani, risetnya menjawab persoalan bangsa, dan
pengabdiannya menyentuh desa dan jemaat.
Pro Deo et Patria adalah fondasi dari dua
belas wajah sebelumnya. Rekam jejak, energi, jejaring, dan kecakapan hanya
bernilai bila diarahkan kepada Tuhan dan bangsa. Tanpa fondasi ini,
kepemimpinan mudah tergelincir menjadi pencarian hasangapon (kehormatan)
pribadi atau alat kepentingan kelompok.
Pertanyaan uji: Untuk siapa Anda mencalonkan diri, dan
bagaimana setiap keputusan Anda akan diuji oleh Pro Deo et Patria?
14. Kapten adalah Pilihan Tuhan
Iman Kristen mengakui bahwa Tuhan berdaulat
atas kepemimpinan: “Dia memecat raja dan mengangkat raja” (Daniel 2:21), dan
“tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1). Kepemimpinan
sejati bermula dari panggilan, bukan dari ambisi: “Bukan kamu yang memilih Aku,
tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Bagi UHKBPN, universitas yang
lahir dari gereja, pemilihan rektor bukan sekadar kontestasi suara, tetapi
pergumulan iman untuk mencari kehendak Tuhan.
Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan bekerja
melalui proses manusia, bukan di luarnya. Ketika para rasul mencari pengganti
Yudas, mereka menetapkan kriteria, mengajukan calon, lalu berdoa: “Ya Tuhan,
Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang
Engkau pilih” (Kisah Para Rasul 1:24). Daud dipilih dan diurapi Tuhan melalui
Samuel (1 Samuel 16:13), tetapi baru menjadi raja atas seluruh Israel ketika
para tua-tua mengurapinya (2 Samuel 5:3). Pilihan Tuhan dikonfirmasi oleh
komunitas melalui proses yang tertib dan jujur.
Tanda-tanda pilihan Tuhan dapat dikenali, antara
lain:
·
kerendahan
hati dan rasa tidak layak di hadapan tugas besar, seperti Musa (Keluaran 3:11)
dan Gideon (Hakim-hakim 6:15),
·
kesediaan
diutus, “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8),
·
buah
pelayanan yang nyata, sebab “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius
7:16) dan
·
pengakuan
dari komunitas yang dilayani.
Namun keyakinan ini juga mengandung
peringatan. Pertama, tidak ada calon yang boleh mengklaim diri sebagai “pilihan
Tuhan” untuk meraih suara, klaim semacam itu justru bertentangan dengan
kerendahan hati yang menjadi tanda panggilan. Kedua, pilihan Tuhan bukan cek
kosong. Saul dipilih Tuhan, tetapi ditolak karena tidak taat, “Karena engkau
telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja” (1
Samuel 15:23). Jabatan adalah amanah yang terus dipertanggungjawabkan. Ketiga,
mengakui hasil pemilihan sebagai bagian dari kedaulatan Tuhan berarti yang
terpilih menerima dengan gentar dan rendah hati, yang tidak terpilih menerima
dengan lapang hati, dan seluruh sivitas bersatu mendukung kapten yang
ditetapkan.
Pertanyaan uji: Apa yang membuat Anda yakin terpanggil, dan
bagaimana Anda akan bersikap bila bukan Anda yang terpilih?
PANDANGAN FILOSOFIS
1.
Nakhoda
yang Memahami Laut
Plato menggambarkan kapal yang awaknya
berebut kemudi, masing-masing merasa layak menjadi nakhoda meski tidak pernah
mempelajari seni navigasi. Sementara itu, navigator sejati yang memahami musim,
langit, bintang, dan angin justru diremehkan. Pesan Plato tajam, kepemimpinan
menuntut pengetahuan dan kebijaksanaan, bukan sekadar kemampuan memenangkan
dukungan. Bagi pemilihan rektor, ini mengingatkan agar kompetensi memimpin
universitas di masa krisis menjadi pertimbangan utama.
2.
Kebijaksanaan
Praktis (Phronesis)
Aristoteles membedakan pengetahuan teoretis
dari phronesis, yaitu kebijaksanaan praktis untuk bertindak tepat dalam situasi
konkret. Pemimpin yang baik bukan hanya tahu apa yang benar, tetapi tahu
bagaimana, kapan, dan kepada siapa harus bertindak. Rektor di masa krisis
membutuhkan phronesis untuk menimbang antara efisiensi dan keadilan, antara
perubahan dan stabilitas.
3.
Trilogi
Kepemimpinan
Ki Hadjar Dewantara merumuskan trilogi
kepemimpinan yang sangat sesuai dengan metafora kapten yakni ing ngarsa sung
tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun
semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Kapten timnas
melakukan ketiganya, memimpin di depan saat menyerang, menggerakkan di tengah
saat membangun permainan, dan mendorong dari belakang saat tim bertahan.
4.
Kepemimpinan
Transformasional dan Melayani
Organisasi yang perlu berubah membutuhkan
pemimpin transformasional yang membangkitkan visi dan nilai bersama, bukan
hanya pertukaran kepentingan. Dibutuhkan kepemimpinan yang melayani, dengan
ujian, apakah orang-orang yang dipimpin bertumbuh menjadi lebih sehat, lebih
bijak, lebih bebas, dan lebih mampu melayani?
5.
Kepemimpinan
Adaptif
Harus dibedakan masalah teknis yang dihadapi
yaknimasalah yang dapat diselesaikan dengan pengetahuan yang sudah ada, dengan masalah
atau tantangan adaptif, yang menuntut perubahan nilai, kebiasaan, dan cara
kerja orang-orang di dalam organisasi. Penurunan mahasiswa baru di UHKBPN
adalah tantangan adaptif yang tidak selesai hanya dengan menambah promosi,
tetapi menuntut perubahan budaya layanan, kurikulum, dan tata kelola. Pemimpin
adaptif berani mengajak organisasi menghadapi kenyataan yang tidak nyaman dan
mengelola ketegangan perubahan secara bertahap.
6.
Kepemimpinan
Level 5
Organisasi yang berhasil berubah dari baik
menjadi hebat dipimpin oleh pemimpin Level 5, yaitu perpaduan antara kerendahan
hati pribadi dan tekad profesional yang kuat. Pemimpin semacam ini
mengarahkan ambisinya bagi institusi, bukan bagi dirinya, memberi pujian kepada
tim ketika berhasil dan bercermin pada dirinya sendiri ketika gagal.
7.
Penyegaran
dalam Perspektif Filosofis
Dari sudut pandang filosofis, ketegangan
antara perubahan dan kesinambungan bukan hal yang harus dihindari, melainkan
dikelola. Harus dipahami dan selalu diingatkan bahwa perubahan adaptif selalu
mengandung kehilangan dan karenanya menimbulkan resistensi. Penyegaran yang
bijaksana mempertahankan apa yang esensial (misi, nilai, dan arah Renstra)
sambil berani mengubah apa yang tidak lagi efektif (cara kerja, budaya, dan
prioritas).
PANDANGAN SOSIOLOGIS BATAK TOBA
UHKBPN tumbuh di tengah masyarakat Batak Toba
dan dalam lingkungan HKBP. Nilai-nilai sosial Batak Toba membentuk cara orang
memandang pemimpin, cara memberi hormat, dan cara mengambil keputusan bersama.
Pemahaman atas nilai-nilai ini membantu memilih pemimpin yang diterima secara
kultural tanpa terjebak dalam primordialisme.
1.
Dalihan
Na Tolu
Dalihan Na Tolu (tiga tungku) adalah struktur
dasar hubungan sosial Batak Toba yang terdiri atas hula-hula (pihak pemberi
istri), dongan tubu (kerabat semarga), dan boru (pihak penerima istri). Tiga
prinsip sikapnya dikenal luas yakni somba marhula-hula (hormat kepada
hula-hula), manat mardongan tubu (berhati-hati dan saling menjaga dengan
saudara semarga), dan elek marboru (membujuk dan mengasihi boru).
Keistimewaan Dalihan Na Tolu adalah bahwa
setiap orang menempati ketiga posisi tersebut dalam situasi yang berbeda.
Seorang raja pada satu kesempatan adalah boru pada kesempatan lain. Tidak ada
yang selalu di atas. Bagi kepemimpinan universitas, prinsip ini mengajarkan
tiga sikap:
Prinsip
| Makna adat
| Penerapan bagi rektor
|
Somba marhula-hula
| Hormat kepada pihak yang dihormati dan pemberi berkat
| Hormat kepada Yayasan, HKBP, pendiri, dan para senior;
menerima nasihat
|
Manat mardongan tubu
| Berhati-hati, saling menjaga, menghindari konflik
dengan sesama
| Menjaga kebersamaan dengan rekan sejawat, pimpinan
fakultas, dan Senat
|
Elek marboru
| Membujuk, mengasihi, dan memperhatikan pihak yang
melayani
| Mengasihi dan memperhatikan dosen, tendik, dan
mahasiswa; membujuk, bukan memaksa
|
2.
Hamoraon,
Hagabeon, Hasangapon
Ketiga nilai ini dapat menjadi kekuatan,
tetapi juga godaan bagi pemimpin. Jabatan rektor dapat dicari demi hasangapon
pribadi. Bagi rektor terpilih ketiganya diarahkan kepada institusi: hamoraon berarti kesehatan
finansial UHKBPN, hagabeon berarti lulusan dan generasi penerus yang berhasil,
dan hasangapon berarti kehormatan UHKBPN di mata gereja, bangsa, dan dunia.
3.
Sahala:
Wibawa yang Diakui
Dalam kosmologi Batak Toba, sahala adalah
wibawa atau kekuatan rohani yang membuat seseorang dihormati, misalnya sahala
harajaon (wibawa kepemimpinan). Sahala tidak dapat dipaksakan namun diakui oleh
komunitas karena keteladanan, kebijaksanaan, dan kemampuan memimpin. Dalam
bahasa modern, sahala dekat dengan kredibilitas dan legitimasi. Rektor
membutuhkan sahala agar keputusannya diterima, terutama keputusan sulit di masa
krisis.
4.
Natua-tua
dan Raja Parhata
Masyarakat Batak menghormati natua-tua, orang
tua yang bijak dan mengayomi, serta tokoh yang mampu berbicara dan
menyelesaikan perkara dalam musyawarah adat. Pemimpin dihormati bukan karena
memerintah, tetapi karena mampu pasaut hata, yaitu menuntaskan pembicaraan dan
mendamaikan pihak-pihak yang berbeda. Ini sejalan dengan wajah kapten sebagai
orangtua dan penyambung lidah.
5.
Marsiadapari
dan Kerja Bersama
Marsiadapari, tradisi saling membantu dalam
bekerja di sawah secara bergiliran, menggambarkan semangat gotong royong.
Pemimpin yang baik menghidupkan semangat ini, unit-unit saling membantu, bukan saling bersaing
secara ego sektoral.
6.
Jebakan
Primordialisme
Ikatan marga dan kekerabatan adalah kekuatan
sosial Batak Toba, tetapi dalam pemilihan pemimpin institusi akademik dapat
menjadi jebakan. Dukungan yang diberikan karena kesamaan marga, kampung, atau
kelompok, bukan karena kompetensi dan integritas, bertentangan dengan prinsip
Alkitab (Kel 18:21) dan dengan tata kelola universitas yang baik. Dalihan Na
Tolu sendiri mengajarkan bahwa setiap orang terhubung dengan semua pihak;
karena itu pemimpin yang dipilih harus mampu menjadi milik semua, bukan milik
satu kelompok.
Pepatah: “Pantun hangoluan, tois hamagoan”,
kesantunan membawa kehidupan, keangkuhan membawa kebinasaan. Pemimpin yang
santun dan rendah hati menghidupkan institusi, pemimpin yang angkuh merusaknya.
IMPLIKASI MASA JABATAN EMPAT TAHUN
•
Siap
sejak hari pertama. Calon
perlu menyajikan rencana 100 hari yang konkret dan selaras dengan tahun pertama
Renstra.
•
Tim
inti yang siap. Dengan waktu
terbatas, kemampuan membentuk tim wakil rektor dan pimpinan unit yang kompeten
menjadi sangat menentukan.
•
Kesinambungan.
Rektor terpilih adalah pemilik Renstra
2027â€"2031, kesinambungan program lebih penting daripada memulai dari nol.
•
Kaderisasi.
Rektor periode ini juga bertanggung jawab
menyiapkan pemimpin berikutnya, sebagaimana Musa menyiapkan Yosua.
PRINSIP PROSES YANG SEHAT
a.
Kriteria
diumumkan terbuka sebelum pencalonan.
b.
Calon
menyampaikan visi, misi, dan rencana 100 hari dalam forum terbuka.
c.
Rekam
jejak diverifikasi dengan data, bukan hanya klaim.
d.
Pemilihan
bebas dari politik uang, janji jabatan, dan tekanan primordial.
e.
Seluruh
proses diiringi doa dan dijalankan sesuai Statuta dan peraturan yang berlaku.
f.
Setelah
terpilih, seluruh pihak bersatu mendukung kapten, termasuk yang sebelumnya
berbeda pilihan.
PENUTUP
UHKBPN sedang berlayar di tengah badai.
Mahasiswa baru terus menurun, tekanan finansial meningkat, dan dunia berubah
dengan cepat. Di saat seperti ini, kapal tidak dapat dikemudikan oleh siapa
saja. Ia membutuhkan kapten timnas yakni pemimpin dengan rekam jejak yang
teruji, yang menjadi generator dan mata air, penyambung lidah dan duta, simbol
dan etalase, yang berani membersihkan yang kotor, menjadi jaminan kepercayaan,
membawa harapan, memegang kompas, dan mengayomi seperti orangtua.
Penyegaran yang sejati bukan sekadar
pergantian wajah, melainkan pembaruan cara, dari cara lama yang tidak lagi
efektif menuju cara baru yang setia pada misi. Alkitab memberi kriteria yang
jernih, filsafat memberi kedalaman, dan kearifan Batak Toba memberi akar
budaya. Semuanya bermuara pada satu panggilan yakni memilih dengan hati
nurani yang jernih, di hadapan Tuhan, demi masa depan UHKBPN dan generasi yang
dipercayakan kepadanya.
“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah kecut dan
tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”
Yosua 1:9
PRO DEO ET PATRIA