Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) adalah ikon
kebanggaan Indonesia. Diatas rumputnya yang hijau, sejarah olahraga bangsa ditulis, di
tribunnya, gemuruh suporter Tim Nasional sepak bola menggema setiap kali Timnas
Garuda bertanding. GBK identik dengan sorak-sorai, yel-yel, nyanyian dukungan,
dan harapan akan kemenangan.
Namun pada Minggu, 18 Oktober 2026, GBK menghadirkan
pemandangan yang berbeda. Tribun dan tempat sekitar lapangan dipenuhi lautan
jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang datang dari berbagai pelosok
Nusantara, bahkan perwakilan HKBP dari Amerika Serikat. Yang terdengar bukan
teriakan gol, melainkan kidung pujian. Yang dirayakan bukan kemenangan sebuah
pertandingan, melainkan kesetiaan Tuhan yang telah memelihara HKBP selama 165
tahun sejak berdirinya pada 7 Oktober 1861.
Ibadah
Syukur dan Perjamuan Kudus
Hari itu jemaat berkumpul dalam ibadah syukur yang
disertai perjamuan kudus, dipimpin langsung oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor
Tinambunan, MST. Ibadah diawali prosesi pimpinan HKBP bersama para pendeta yang
melangkah dengan pasti dan penuh sukacita menyusuri pinggir lapangan menuju
altar sambil menyapa umat. Prosesi itu bukan sekadar seremoni pembuka akan
tetapi seolah menggambarkan perjalanan panjang HKBP selama 165 tahun,
perjalanan yang penuh pergumulan, baik internal maupun eksternal, tetapi yang
di dalamnya Tuhan senantiasa mengasihi dan menuntun gereja-Nya.
Seluruh rangkaian acara dikemas dengan sangat rapi oleh
panitia yang dipimpin ketua Panitia, Dr. Effendi M.S. Simbolon dan komandan
lapangan bp.Dr.Martuama Saragi. Mengelola jemaat sebanyak itu dalam satu ibadah
bukan pekerjaan ringan menata alur kedatangan, tata ibadah, pelayanan perjamuan
kudus, hingga perpindahan ke sesi perayaan berjalan tertib. Bahkan jauh
sebelumnya melaksanakan koordinasi dengan semua pihak terkait. Ketertiban itu
sendiri adalah kesaksian bahwa persekutuan yang besar dapat dikelola dengan
baik bila dilandasi kerja sama dan panggilan pelayanan.
Kidung
dari Segala Generasi
Sebelum ibadah dimulai, diawali pra-ibadah menampilkan
kidung pujian dari anak-anak sekolah minggu, remaja, koor ina, koor ama dan
lansia HKBP. Kidung rohani juga dibawakan para artis ibu kota yaitu pasangan
suami-istri Dorman Manik dan Rani Simbolon, Osen Hutasoit, Jun Munte, Tongam
Sirait, Ruth Sitohang, Marsada Band, serta Amigos Band.
Momen yang paling mengharukan justru datang dari yang
paling kecil dan yang paling senior. Anak-anak sekolah minggu bernyanyi dengan
antusias yang tulus yang berjudul “Holan dakdanak nametmet au”. Para lansia
HKBP memainkan angklung dengan penuh semangat “Dung sonang rohakku”. Naposobulung HKBP berkidung dan menari, dan
koor ama pun tidak ketinggalan. Di GBK hari itu, tiga hingga empat generasi
HKBP berdiri di panggung yang sama. Itulah gambaran gereja yang hidup yakni
iman yang diwariskan, dirawat, dan dirayakan bersama lintas usia.
Doa
syafaat
Dalam ibadah dipanjatkan doa
syafaat dengan tema yang tertata rapi yaitu doa syafaat bagi HKBP dan
panggilannya, bagi pelayan HKBP dan keluarganya, bagi anak-anak dan generasi
muda, bagi Masyarakat, bangsa dan ciptaan Tuhan.
Bagi Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP), tradisi doa syafaat tercermin kokoh dalam Konfesi dan Agenda
HKBP. Sebagai gereja beraliran Lutheran, HKBP memandang jemaat bukan hanya
sebagai penonton pasif, melainkan persekutuan kudus (communio sanctorum)
yang bertanggung jawab merawat dunia melalui doa dan karya nyata. Doa syafaat
adalah ekspresi tertinggi dari solidaritas kosmis dan eklesial yang merangkul
gereja lokal, tubuh pelayan, masa depan generasi pewaris, serta tatanan sosial,
bangsa-bangsa, dan keutuhan segenap alam semesta yang diciptakan Allah.
Melalui doa syafaat, HKBP
memohon penyucian dan pembaruan yang terus-menerus (ecclesia reformata,
semper reformanda). HKBP bersyafaat agar kehadirannya di tengah Indonesia
dan dunia tidak sekadar menjadi institusi etnis yang eksklusif, melainkan
teladan oikoumene yang memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan martabat
manusia. HKBP dipanggil untuk menjadi garam dan terang yang berdampak nyata,
bukan mercusuar yang sinarnya terkurung di dalam dinding-dinding gereja.
Syafaat bagi
pelayan yang mencakup dua dimensi esensial yakni integritas rohani-intelektual
dan ketahanan psikososial keluarga pelayan. Tekanan pelayanan pastoral di era
modern sering kali membawa risiko kelelahan emosional (burnout),
depresi, dan keterasingan. Lebih dari itu, keluarga pelayan yakni pasangan
hidup dan anak-anak, sering kali harus mengorbankan privasi, stabilitas
ekonomi, dan kenyamanan demi dinamika mutasi serta panggilan pelayanan.
Menopang para pelayan dan keluarganya dalam doa adalah tindakan kasih gerejawi
yang membentengi mereka dari keputusasaan, menjaga keutuhan rumah tangga mereka
sebagai altar pertama pemuridan, serta memohonkan hikmat Roh Kudus agar firman
yang diberitakan senantiasa hidup dan mengubahkan.
Doa syafaat
bagi anak-anak dan generasi muda HKBP adalah doa pemagaran rohani dan doa
profetik. Sebagaimana Yesus merangkul anak-anak dan memberkati mereka, gereja
bersyafaat agar dasar-dasar iman yang ditaburkan melalui Sekolah Minggu,
Katekisasi Sidi, dan persekutuan pemuda berakar kuat. Syafaat ini menuntut
komitmen gereja untuk membekali mereka dengan nalar kritis yang berakar pada
firman Tuhan, integritas etika Kristen, serta kepekaan panggilan untuk menjadi
profesional, ilmuwan, pemimpin, dan pelayan yang memuliakan Kristus di ruang
publik.
Syafaat bagi
pemerintah dan para penyelenggara negara bukanlah bentuk legitimasi buta
terhadap kekuasaan, melainkan doa kritis agar para pemimpin dikaruniai hikmat,
takut akan Tuhan, dan keberanian moral untuk menegakkan hukum yang adil,
membela kaum miskin dan tertindas, serta menjaga pluralisme dan kebebasan
beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersyafaat bagi bangsa berarti
menempatkan gereja sebagai hati nurani bangsa yang menggemakan suara kenabian
di hadapan ketidakadilan.
Dua
GBK dari Mimbar: Bersama Kristus, Berdasar Kasih
Dalam khotbahnya yang berlandaskan 2 Petrus 1:3â€"11, Oppui
Ephorus mengajak jemaat melaksanakan dua gerakan yang singkatannya sama dengan
nama stadion tempat berkumpul: Gerakan Bersama Kristus (GBK) dan Gerakan
Berdasar Kasih (GBK). “Kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita
segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh…” (2 Petrus 1:3)
Singkatan ini bukan sekadar retorika yang cerdas. Nas 2
Petrus 1:3â€"11 berbicara tentang anugerah Allah yang telah memberi segala
sesuatu untuk hidup saleh, lalu memanggil orang percaya untuk dengan
sungguh-sungguh menambahkan kepada iman kebajikan, pengetahuan, penguasaan
diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan puncaknya, kasih akan
semua orang. Rangkaian itu berawal dari Kristus dan bermuara pada kasih. Maka
“Gerakan Bersama Kristus” adalah titik berangkatnya, dan “Gerakan Berdasar
Kasih” adalah wujud nyatanya.
Pesan ini relevan bagi HKBP di usia 165 tahun. Gereja
yang besar tidak cukup hanya kuat secara jumlah dan organisasi namun harus
terus bergerak bersama Kristus agar tidak kehilangan arah, dan bergerak
berdasar kasih agar kehadirannya menjadi berkat, bukan hanya bagi warganya
sendiri, tetapi juga bagi bangsa dan sesama.
Mengingat
Kasih Tuhan bagi Tanah Batak
Ephorus juga mengingatkan jemaat akan kasih dan kebaikan
Tuhan kepada suku Batak melalui pengutusan para misionaris ke Tanah Batak.
Melalui pelayanan mereka, Injil hadir bersama sekolah, layanan kesehatan, dan
pembaruan kehidupan, sehingga orang Batak dibebaskan dari jerat kebodohan dan
kemiskinan serta dapat menikmati anugerah Tuhan yang berlimpah seperti yang
terlihat saat ini. Tak terhitung orang-orang Batak yang diberkati Tuhan yang
melayani di pemerintahan, TNI, Polri, BUMN, Perusahaan nasional bahkan
internasional dll. Dengan kata lain orang batak tampil disegala lini kepakaran
membangun peradaban.
Ingatan ini menjadi refleksi yang dalam. Oppui I.L.
Nommensen, sang Rasul Batak, tidak sempat menyaksikan sukacita di GBK ini,
bahkan mungkin tidak pernah membayangkannya. Ia datang ke lembah Silindung
dengan risiko besar dan penolakan yang keras. Benih yang ditanam dengan air
mata itu kini tumbuh menjadi gereja yang besar, tersebar di seluruh Indonesia
hingga ke luar negeri.
Perayaan
dan Sambutan Panitia
Usai ibadah, acara berlanjut dengan perayaan yang diisi
hiburan dari para artis yang sama, kini membawakan lagu-lagu populer. Jemaat
tampak antusias mengikutinya banyak yang turut bernyanyi dan bergembira bersama
keluarga dan sesama warga jemaat.
Dalam sambutannya, Dr. Effendi M.S. Simbolon menekankan
pentingnya persatuan dan kesatuan jemaat HKBP. Ia juga menyampaikan harapan
agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun. Harapan tersebut
patut dipertimbangkan dengan bijak oleh pimpinan dan seluruh warga HKBP, sambil
menimbang bentuk, skala, dan manfaat yang paling tepat bagi pelayanan gereja ke
depan. Selain itu Dr.Effendi M.S.Simbolon memberikan apresiasi kepada tamu
undangan yang hadir Wamenkumham Prof.Dr.Otto Hasibuan beserta ibu, Bupati
Tapanuli Utara DR.Jonius Taripar Hutabarat, bupati Samosir Vandiko Gultom,
ketua Yayasan kesehatan HKBP Letjen(Purn).Hinsa Siburian dan tokoh-tokoh lain.
Tak lupa juga disampaikan terima kasih kepada presiden RI, TNI, Polri dan semua
pihak terkait seperti bank BTN, pengelola GBK, dan para sponsor pendukung acara serta kepada
artis-artis ibu kota yang mendukung acara baik saat pra-ibadah dan pada saat
perayaan.
Ketika
Kursi Kehormatan Tetap Kosong
Ada satu hal yang menarik untuk dicermati dari perayaan
ini. Dalam tertib acara tercantum bahwa Presiden Republik Indonesia akan hadir
dan menyapa jemaat. Pencantuman itu tentu bukan tanpa dasar, panitia pasti
telah memperoleh kepastian sebelumnya sehingga menyusun rangkaian acara sedemikian
rupa. Namun, pada hari itu Presiden berhalangan hadir, dan alasannya tidak
disampaikan secara terbuka kepada jemaat yang hadir dan menantikan.
Yang justru menyentuh adalah sikap jemaat. Sepanjang
acara hingga tuntas, tidak terdengar pertanyaan mengenai ketidakhadiran
Presiden. Setelah ibadah ditutup pun, tidak ada jemaat di sekitar tempat saya
duduk yang mempersoalkannya. Ketika jemaat saling bersalaman, sebagaimana
kebiasaan setelah ibadah, yang tampak adalah wajah-wajah penuh sukacita dan
ceria, tanpa sedikit pun raut kecewa. Sapaan hangat terdengar bersahut-sahutan:
“Selamat hari Minggu, amang! Selamat hari Minggu, inang!”
Para panitia pun tampak saling bersalaman dengan gembira,
terutama Ketua Panitia, Dr. Effendi M.S. Simbolon, yang terlihat sangat
bersukacita. Bahkan ketika puluhan ribu jemaat berjalan keluar dari GBK dengan
tertib, tidak terdengar keluhan sedikit pun. Semua wajah memancarkan sukacita.
Mengapa demikian? Karena jemaat datang dengan satu tujuan
yakni beribadah kepada Tuhan dan menerima Perjamuan Kudus. Tujuan itu telah
tercapai sepenuhnya. Ibadah dan perjamuan kudus yang dilayani langsung oleh
pimpinan tertinggi HKBP, Ephorus, adalah momen langka, apalagi dialami
bersama-sama oleh puluhan ribu jemaat dalam satu tempat. Sukacita jemaat tidak
bergantung pada siapa yang hadir di podium kehormatan, melainkan pada
perjumpaan dengan Tuhan di dalam ibadah. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang
wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan
kepada Allah” (Matius 22:21).
Sikap jemaat hari itu mencerminkan ajaran Tuhan Yesus
tersebut. Kepada Allah, jemaat telah memberikan apa yang patut yakni syukur,
pujian, dan hati yang menyembah. Kepada pemerintah, jemaat tetap memberi
hormat. Presiden tetap dihormati meskipun tidak hadir, dan itu tampak jelas
dari tidak adanya kekecewaan maupun ucapan yang merendahkan. Inilah kedewasaan
iman sekaligus kedewasaan berwarga negara yakni menghormati pemimpin bangsa
tanpa menggantungkan sukacita rohani pada kehadirannya.
Menanggapi
Kritik dengan Kepala Dingin
Perayaan
sebesar ini tentu tidak lepas dari kritik. Segelintir jemaat, melalui media
sosial, menilai acara ini menghamburkan uang. Sebagian lagi berpendapat
perayaan lebih tepat dilaksanakan di Tarutung, tempat kantor pusat HKBP berada.
Kritik semacam itu perlu didengar, bukan ditepis. Ia
lahir dari kepedulian terhadap gereja, dan mengingatkan bahwa setiap rupiah
persembahan adalah amanah. Justru karena itu, transparansi dan akuntabilitas
pendanaan, termasuk sumber dana dan rincian penggunaannya, akan menjadi jawaban
terbaik sekaligus teladan tata kelola gereja yang baik.
Namun perlu juga dilihat dari sisi yang lain. Perayaan
ini bukan pertunjukan kesombongan, melainkan semata-mata tanda ucapan syukur
HKBP atas pemeliharaan Tuhan selama 165 tahun, di mana HKBP semakin berkembang
hingga ke luar negeri. Jakarta dan sekitarnya kini menjadi rumah bagi sangat
banyak warga HKBP, dan GBK menyediakan ruang yang memungkinkan persekutuan
sebesar itu berkumpul dalam satu ibadah. Tarutung tetap memiliki tempat yang
tak tergantikan sebagai jantung sejarah dan pusat pelayanan HKBP, berkumpul di
ibu kota tidak mengurangi kehormatan itu. Keduanya dapat saling melengkapi
yakni Tarutung sebagai akar, Jakarta sebagai salah satu ladang tempat buahnya kini
dipanen.
Ukuran sejati dari perayaan ini pada akhirnya bukan pada
megahnya stadion, melainkan pada apa yang terjadi sesudahnya. Apakah semangat
“Gerakan Bersama Kristus” dan “Gerakan Berdasar Kasih” itu terbawa pulang ke
huria-huria, ke rumah tangga, ke tempat kerja, dan ke tengah masyarakat? Bila
ya, maka setiap biaya dan tenaga yang dikeluarkan telah menjadi investasi
rohani yang berharga.
Bagi saya pribadi yang baru pertama sekali menghadiri
ibadah raya HKBP di GBK, ada suasana batin yang tak terlukiskan. Gema suara
puluhan ribu jemaat saat melantunkan lagu pujian terasa sangat menyentuh kalbu
dan membuat “marsisir imbulu”. Saya mengimani Tuhan sangat senang mendengar
pujian jemaat HKBP di GBK malam itu. Seandainya ibadah raya seperti itu
dilaksanakan Kembali, saya berjanji dalam hati seandainya Tuhan memberi
kesempatan saya akan hadir lagi.
Penutup
Pada 18 Oktober 2026 tepat hari Minggu, Gelora Bung Karno menjadi saksi bahwa sebuah
gereja yang lahir dari benih kecil di Tanah Batak telah bertumbuh menjadi
persekutuan besar yang melintasi pulau dan benua. Seperti prosesi para pendeta
yang melangkah dengan pasti di awal ibadah, HKBP diajak terus melangkah:
bersama Kristus, berdasar kasih.
Selamat Ulang Tahun HKBP ke-165, terpujilah Tuhan Yesus
Kristus selamanya, Haleluya.